Teori Konsumsi Murni dalam Perspektif Ekonomi Islam

Teori Konsumsi Murni dalam Perspektif Ekonomi Islam

Oleh:  Aisa Manilet

 

Pendahuluan

Dalam kehidupan manusia di dunia sejak awal selalu dituntut untuk bekerja,  guna memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, berkaitan dengan kebutuhan rutin maupun insidentil, seperti makan, minum, pakaian, perumahan, kendaraa, bahan bakar,pendidikan, pengobatan dal lain-lain (sandang, pangan dan papan).  Semua kebutuhan tersebut  dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan jasmani  dan dalam menyelenggarakan rumah tangga, sedangkan keanekaragamannya tergantung pada tingkat pendapatan rumah tangga seseorang. Aktifitas dan kebutuhan  ini ditemukan dalam tiga aspek pembahasan ekonomi yaitu produksi, distribusi dan konsumsi.

Ilmu ekonomi merupakan suatu studi ilmiah yang membahas tentang bagaimana individu dan kelompok masyarakat dalam  menentukan pilihan.  Pernyataan ini sejalan dengan pembenaran bahwa manusia mempunyai keinginan yang tidak terbatas, maka untuk memuaskan berbagai kebutuhan manusia, dapatlah digunakan sumber daya yang tersedia, tetapi sumber daya ini tidak tersedia dengan bebas, karena sumber daya yang ada langka dan mempunyai berbagai kegunaan alternatif.  Pilihan kegunaan dapat terjadi antara penggunaan sumber daya sekarang  dan sumber daya masa depan, selain itu akan menimbulkan biaya dan manfaat[1], dengan demikian diperlukan adanya pertimbangan efesiensi dalam penggunaan sumber daya.

Pola hidup manusia selalu dibarengi dengan majunya peradaban manusia itu sendiri, semakin tinggi tingkat kecerdasan seseorang maka semakin banyak pula peralatan kapital yang dimiliknya, sehingga dapat mengakibatkan lajunya kemampuan seseorang dalam menghasilkan barang-barang dan jasa yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan kemungkinan pemenuhan kebutuhan akan beragam dan tinggi yang tidak seimbang dengan kamampuan manusia. Dalam menghadapi fenomena keanekaragaman pemenuhan kehidupan tersebut, manusia cenderung  berasumsi dan bersikap rasional, yakni sepanjang mereka punya pilihan, mereka akan memilih  yang akan mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya dari penggunaan alat pemenuhan kebutuhan tersebut.

Kendati manusia dalam aktifitas kesehariannya perlu memenuhi dan mencukupi berbagai kebutuhan utamanya untuk mempertahankan  kelangsungan hidup, akan tetapi dalam kegiatannya diperlu akan adanya norma dan kode etik.  Sehingga tidak menimbulkan kekacauan dan kesulitan[2].

Pengertian Teori Konsumsi

Suherman Rasyidi adalah “penggunaan jasa untuk memuaskan kebutuhan manusia.[3]  Paul  A. Samuel Son dan Willan D Nor Haus Mengemukakan bahwa  “Konsumsi dirumuskan sebagai pengeluaran untuk barang dan jasa seperti makan, pakaean, mobil, pengobatan dan perumahan.[4].  Sedangkan menurut Afzalur al Rahman, “Konsumsi adalah permintaan dan pemanfaatan.[5]

Pengertian-pengertian di atas menunjukkan bahwa, yang dimaksud dengan konsumsi adalah  pembelanjaan atau pengeluaran yang bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan hidup secara jasmani atau rumah tangga untuk bertujuan memuaskan kebutuhan manusia.

 Tujuan Konsumsi

Konsumsi merupakan  tujuan yang esensial dari produksi, karena produksi adalah  alat bagi konsumsi, dan produksi dapat diperlukan seanjang masih ada konsumsi, karena konsumsi merupakan bagian akhir dari produksi,  dengan demikian produksi dapat berhenti namun konsumsi tidak dapat berhenti.

Selain itu konsumsi maupun tabungan bergantung pada bergantung atau merupakan fungsi dari pendapatan, karena konsumsi dan pendapatan memiliki hubungan positif, bila pendapatan seseorang meningkat, konsumsipun   akan   ikut  meningkat, sebaliknya apabila pendapatan menurun maka konsumsipun  akan merosot.  Hubungan konsumsi dan pendapatan ini disebut propensity  to consume (hasrat untuk konsumsi).[6]

Hubungan Antara Pendapatan dengan Konsumsi

Apabila seorang menerima pendapatan dari hasil kerjanaya, dalam jumlah besar maupu n kecil, pasti akan membuat perencanaan  untuk membelanjakan  pendapatannya itu, setelah dikurangi segala beban kewajiban (pajak dan sebagainya).  Setiap pendapatan yang pertama dikeluarkan adalah untuk keperluan konsumsi akhir (final consuption) yakni konsumsi yang langsung memberikan kepuasan, jika ada sisa akan ditabung, karena itu pendapatan pasti dikeluarkan.

Menurut C Gerardo P. Sicat  H.W Arict terdapat dua cara menghabiskan pendapatan yang siap digunakan:

Pertama: Membelanjakannya untuk barang-barang konsumsi, pengeluaran ini untuk mempertahankan taraf hidup.  Pada tingkat pendapatan seseorang rendah, maka pengeluaran konsumsi pertama dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok seperti pangan dalam  memenuhi kebutuhan  jasmani[7] guna mempertahankan kelangsungan hidup, selain itu berbagai macam konsumsi seperti sandang, perumahan,bahan bakar dan lain-lain sebagai kebutuhan menyelenggarakan rumah tangga . Keanekaragaman dari pembelanjaan dan penggunaannya tergantung pada tingkat pendapatan rumah tangga, jika pendapatan berbeda-beda akan mengakibatkan perbedaan taraf konsumsi.

Keynes mengatakan, bahwa ada pengeluaran konsumsi menurun yang harus dilakukan oleh masyarakat (konsumsi oktonomous)  dan pengeluaran knsumsi akan meningkat dengan bertambahnya penghasilan, selain itu juga dipengaruhioleh faktor-faktor  seperti keayaan, tingkat sosial ekonomi, tingkat harga, tingkat bunga, dan lain-lain.[8]

Kedua: Tidak membelanjakannya atau ditabuang tutabung, apakah dengan menyimpan di bank sebagai deposito, disimpan dalam bentuk uang tunai di bawah bantal, atau digunakan secara langsung dalamkegiatan yang menghasilkan pendapatan dalam kurun waktu kemudian.[9]

Kedua poin tersebut memparlihatkan tentang bagaimana pendapatan perorangan yang siap dibelanjakan itu dapat tersalur ke konsumen dan tabungan, dengan cara pertama, konsumsi tersalur ke pengeluaran untuk pangan, sandang, perumahan,   bahan     bakar,    pengangkutan,    hiburan   dan    perawatan, kesehatan.  Kedua, bagian yang tidak dikonsumsi masuk  kedalam tabungan.  Pengeluaran  untuk  konsumsi dan bagian tabungan (yang tidak hanya disimpan) masuk kembali kedalam arus kegiatan ekonomi melalui mata rantai pendapatan konsumsi investasi.

Konsumsi diperuntukkan bagi perawatan perorangan dan keluarga, secara langsung mengarah pada terpenuhinya kebutuhan pangan, dandang dan perawatan perorang.  Apa yang tidak dibelanjakan tentang konsumsi adalah ditabung, jika menabung dalam bentuk penumpukan kas, maka arus pendapatan itu habis di sana, kecuali jika rumah tangga yang menggunakan kas ini untuk konsumsi nanti atau kebutuhan-kebutuhan lain.  Menabung seperti itu disalurkan pada sistem keuangan dn pada aktivitas produksi pendapatan langsung yang pada akhirnya kembali ke ekonomi sebagai investasi..

 Prilaku Konsumsi

Teori prilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih diantara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan  sumber daya (resonarce) yang similikinya.  Teori prilaku konsumen rasional dalam paradigma ekonomi konvensional didasari pada prinsip-prinsip dasar utilitarianisme diprakarsai oleh Bentham yang mengatakan bahwa secara umum tidak seorangpun dapat mengetahui apa yang baik untuk kepentingan dirinya kecuali orang itu sendiri.  Dengan demikian kebebasan terhadap individu, baik oleh individu lain maupun oleh penguasa, adalah kejahatan dan harus ada alasan kuat untuk melakukannya.  Menurut Mill,campur tangan negara didalam masyarakat manapun harus diusahakan seminimum mungkin dan campur tangan yang merintangi kemajuan manusia merupakan campur tangan terhadap kebebasan-kebebasan dasarmanusia, untuk itu perlu dihentikan.

Mill berpendapat bahwa setiap orang di dalam masyarakat harus bebas untuk mengejar kepentingannya dengan cara yang dipilihnya sendiri,namun kebebasan seseorang untuk bertindak dibatasi oleh kebebasan orang lain artinya kebebasan untuk bertindak itu tidak boleh mendatangkan kerugian bagi orang lain.[10]

Dasar filosofis di atas melatar belakangi analisis mengenai prilaku konsumen dalam teori ekonomi konvensional, Beberapa prinsip dasar dalam analisis perilaku konsumen adalah:

  1. Kelangkaan dan terbatsnya pendapatan. Adanya kelangkaan dan terbatasnya pendapatan memaksa orang menentuka pilihan, aga pengeluaran tetap berada pada anggaran yang telah ditetapkan.
  2. Konsumen mapu membandingkan biaya dengan manfaat. Jika dua barang memberi manfaat yang sama,konsumen akanmemilih yang biayanya lebih kecil,  bila untuk memperoleh dua jenis barang dibutuhkan biaya yang sama,maka konsumen akan memilih barang yang memberi manfaat lebih besar.
  3. Tidak semua konsumen dapat memperkirakan manfaat dengan tepat.  Saat membeli barang, bisa jadi manfaat yang diperoleh tidak sesuai dengan harga yang harus dibayarkan.
  4. Setiap barang dapat disubstitusi dengan barang lain.  Dengan demikian konsumen dapat memperoleh kepuasan dengan berbagai cara.
  5. Konsumen tunduk kepada hukum berkurangnya tambahan kepuasan (The Law of Diminishing Marginal Utility). Semakin banyak jumlah barang dikonsumsi, semakin kecil tambahan kepuasan yang dihasilkan.[11]

Asumsi sentral dalam teori ekonomi mikro neoklasik adalah manusia berprilaku secara rasional. Asumsi ini diperlukan agar dapat dibengun teori yang memiliki daya prediksi terhadap prilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya, dihadapkan denga keterbatasan sumber daya yang dimilikinya.   Rasionalitas menjadi dasar dari semua model dalam teori ekonomi moderen yang berkembang saat ini,dan diyakini sistem kapitalisme  tidak dapat hidup tanpanya. Meskipun dalam realitas manusia sering kali tidak bertindak rasional, padahal teori ekonomi memperlakukan manusia sebagai orang yang senantiasa rasional. Dengan demikian, perbedaan rasionalitas dalam teori eknomi rasionalitas dalam kenyataan seringkali kabur.[12]

Teori prilaku konsumsi yang dikembangkan di barat sebelum timbulnya kapitalisme merupakan sumber dualitas yakni “rasionalisme ekonom dan                                                                                                                                          utilitarianisme” rasionalisme ekonomi menafsirkan  prilaku manusia sebagai sesuatu yang dilandasi oleh perhitungan cermat yang diarahkan kepada pandangan ke depan dan persiapan terhadap kenerhasilan ekonomi, keberhasilan ekonomik ini secara ketat dapat didefinisikan sebagai “membuat uang dari manusia”.  Memperoleh benda harta baik dalam pengertian uang atau berbagai komoditas  adalah tujuan hidup yang terakhir dan pada saat yang sama merupakan tingkat pengukur keberhasilan ekonomik.[13] Etika dan falsafah tersebut diartian dan didapat dari keberhasilan ekonomik. Sedangkan keberhasilan dalam membuat uang adalah sumber nilai-nilai dan sikap-sikap moral.  “Kejujuran dapat bermakna sebab ia menjamin kepercayaan disiplin, ketekunan bekerja dan sikap hemat.

Prilaku konsumen dinyatakan dengan fungsi utilitas. Seorang konsumen dikatakan rasional, apabila berusaha memaksimumkan fungsi utilitasnya   yang   ditentukan  oleh  banyaknya   barang  tahan   lama   yang dikuasai  pada tingkat pendapatan tertentu,  inilah yang disebut dengan fungsi tujuan konsumen rasional.[14]

Dalam paradigma konvensional, seorang yang rasional akan mencapai utilitas maksimum, juga  memberikan kepuasan (satisfactin) yang maksimum. Konsep utilitas ini mengacu pada kepuasan konsumsi yang berkaitan dengan pemilikan, penggunaan, konsumsi atau manfaat dari suatu produk. Utilitas melekat dalam produk-produk tersebut yang mencermikan kemampuan kualitas untuk memberikan kepuasan total kepada konsumen yang mengkonsumsi produk itu. Dengan demikian sumber dan penyebab dari utilitas  adalah kualitas dalam arti luas yang dapat bersifat obyektif maupun subyektif, tergantung pada padangan konsumsi itu sendiri. Kulitas produk berfokus pada kepuasan konsumen terukur dari  keadaan dimana kebutuhan, keinginan dan harapan konsumen dapat terpenuhi melalui produk yang dikonsumsi.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan ekspektasi konsumen adalah:

  1. Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan langsung oleh konsumen ketika ia sedang mencoba melakukan transaksi dengan produksi.
  2. Pengalaman terdahulu, ketika mengknsumsi produk dari perusahaan maupun pesaing-pesaingnya.
  3. Pengalaman dari teman-teman, dimana mereka akan menginfrmasikan kualitas produk yang akan dibeli oleh konsumen itu.
  4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran, hal ini akan memperoleh persepsi konsumen.[15]

Pada umumnya konsumen menginginkan produk  yang memiliki karakteristik l ebih cepat (jasder)  lebih murah (cheaper)  dan lebih baik (better ).  Dalam hal ini terdapat tiga dimensi yang perlu diperhatikan, yaitu dimensi waktu, biaya dan dimensi kualitas.

Karakteristik lebih cepat, berkaitan dengan dimensi waktu yang menggambarkan kecepatan dan kemudahan atau kenyamanan untuk memperoleh produk itu.  Karakteristik lebih murah berkaitan dengan dimensi kualitas produk yang paling sulit untuk digambarkan secara cepat.[16] Interaksi prilaku dan idelaisme konsumen tersebut selalu menjadi harapan setiap pelaku konsumen, sebab mereka selalu ingin memperoleh kepuasan dan kenyamanan, maka dengan sendirinya tujuan dapat tercapai secara maksimal.

Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Teosi Konsumsi  Murni

Pendekatan konvensional pada pembahahasan di atas memiliki perbedaan dengan pandangan Islam, mengkonsumsi   suatu barang senantiasa selalu berhati-hati dalam penggunaan kekayaan dan berfikir rasional didalam mengkonsumsi suatu barang, seperti suatu negara yang kemungkinan memiliki kekayaan melimpah dan mempunyai sistem pertukaran dan distribusi akan adil dan merata, tetapi bila kekayaan tersebut tidak dimanfaatkan dengan sebaik- baiknya atau dihambur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat karena kekayaan merupakan tujuan utamanya, maka sistem pertukaran (distribusi) yang baik akan mengalami kegagalan.[17]

Syari’ah Islam menginginkan manusia mencapai dan memelihara kesejahteraannya. Imam Shatibi menggunakan istilah “mashlahah”, yang maknanya lebih luas dari sekedar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional.  Mashlahah merupakan sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan-tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini.  Menurut Khan dan Ghifar ada lima elemen dasar dari kehidupan manusia yaitu: Kehidupan atau jiwa (al nafs), properti atau harta (al-mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nafs).  Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut pada setiap individu, itulah yang disebut dengan mashlahah.  Aktivitas ekonomi meliputi produksi, konsumsi dan pertukaran yang menyangkut mashlahah tersebut harus dikerjakan sebagai “relegious” duty atau ibadah.  Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia saja tetapi juga kesejahtraan diakhirat (falah).  Semua aktivitas tersebut memiliki mashlahah bagi umat manusia disebut “needs”  (kebutuhan), dan semua kebutuhan itu harus terpenuhi..  Mencukupi keutuhan dan bukan memenuhi kebutuhan/keinginan adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islam, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama.

Dalam konsumsi dapat diasumsikan bahwa konsumen cenderung untuk memilih barang dan jasa yang memberikan mashlahah maksimum. Hal ini sesuai dengan rasionalitas Islami bahwa setiap pelaku ekonomi selalu ingin meningkatkan mashlahah yang diperolehnya.  Keyakinan bahwa akan ada kehidupan dan pembalasan yang adil di akhirat serta informasi yang berasal dari Allah adalah sempurna dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kegiatan konsumsi.

Kandungan dan maksud dari mashlahah terdiri dari manfaat dan berkah. Demikian pila dalam hal prilaku konsumsi, seorang konsumen akan mempertimbangkan manfaat dan berkah yang dihasilkan dari aktivitas konsumsinya.  Konsumen merasakan adanya manfaat suatu kegiatan konsumsi ketika ia mendapatkan pemenuhan kebutuhan fisik atau psikis/material.  Di sisi lain berkah akan diperolehnya ketika ia mengkonsumsi barang/jasa yang dihalalkan oleh syari’at Islam,[18] ini menunjukkan kepatutan terhadap Allah dan pasti memperoleh pahala.  Jika dilihat dari kandungan mashlahah dari suatu barang/jasa yang terdisi dari manfaat dan berkah, maka disini nampak bahwa manfaat dan kepuasan adalah identik.

Untuk itu, setiap penggunaan perlu diarahkan kepada pilihan-pilihan yang baik dan tepat, sehingga kekayaan dapat dimanfaatkan pada jalan yang baik.  Dalam hal ini konsumen dituntut untuk lebih selektif dalam melakukan pembelanjaan dan penggunaan. Sesungguhnya tidak ada gunanya memperbaiki produksi apabila orang tidak mengkonsumsi dengan baik apa yang diproduksi, maka diperlukan adanya perhatian kepada pihak konsumen, agar ia harus belajar, bersikap baik, memiliki kesadaran, serta diperlukan adanya pembinaan tentang apa yang ia konsumsi?, berapa banyak yang ia konsumsi?, bagaimana ia mengkonsumsikannya?, untuk apa ia mengkonsumsikannya?, dan apa yannng ia konsumsikan?.

Memproduksi barang-barang yang baik adalah suatu tuntutan, sedangkan memiliki  harta (barang/uang) adalah sesuatu yang dibolehkan dalam Islam.  Tetapi  untuk pemilikan harta itu sendiri bukanlah suatu tujuan melainkan sebagai sarana untuk menikmati perhiasan Allah SWT yang diciptakan untuk hamba-hambanya.[19]

Untuk itu manusia tidak boleh mengikuti keinginan hawa nafsunya, yang pada akhirnya membawa kepada hal-hal yang mudlarat,[20] Keinginan manusia dalam perspektif Islam harus dibatasi dengan koridor etika, moral dan akhlak, baik ketika mengusahakannya, maupun ketika mengkonsumsikannya atau krtika akan  memanfaatkannya, sebab hal ini akan tetap dipertanggung jawabkan. Kemiskinan Struktural, kelaliman dan prilaku korup serta kerakusan dan ketamakan sesungguhnya akibat dari tidak dibatasinya keinginan manusia itu sendiri.[21]

Islam mengajarkan umatnya supaya menjaga sirkulasi harta dengan membelanjakannya atau dengan menginvestasikannya maupun memberikan kepada orang lain yang hanya mempunyai sedikit atau sama sekali tidak memiliki sumber penghidupan. Selain itu Al Qur’an telah memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat jelas dalam hal konsumsi, mendorong penggunaan kepada barang-barang yang baik dan bermanfaat serta melarang adanya pembeorosan dan pengeluaran terhadap hal-hal yang tidak penting, juga melarang orang Islam untuk makan dan berpakaian  kecuali hanya yang baik, sebagaiana firman Allah SWT:

Terjemahnya:

Mereka menanyakan kepadamu, apakah yang dihalalkan bagi mereka?, Katakanlah, dihalalkan bagimu yang baik-baik.[22]

Ÿwur ö‘Éj‹t7è? #·ƒÉ‹ö7s? ÇËÏÈ

“ …dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros”. [23]

¨bÎ) tûï͑Éj‹t6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u‹¤±9$# …

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan…”[24].

Ayat-ayat di atas jelas mengarahkan setiap konsumen untuk selalu mengkonsumsi sesuatu yang bersifat baik, halal, menyenangkan, indah, bermanfaat dan tidak berlebihan, untuk mencapai suatu kebahagiaan yang memuaskan.

Komsumi yang berlebih-lebihan merupakan ciri khas masyarakat yang tidak mengenal Tuhan, dikutuk dalam Islam dan disebut dengan istilah israf  (pemborosan) atau tabzir (menghambur-hamburkan harta tanpa guna). Tabzir  berarti mempergunakan harta dengan cara yang salah, karena mengarah ke tujuan-tujuan terlarang seperti penyuapan. Kategori penggunaaan harta seperti ini, menjadi gejala bagi masyarakat  yang beorientasi pada konsumsi semata.  Ajaran Islam menganjurkan  pada pada konsumsi dan penggunaan harta secara wajar dan berimbang, yakni terletak diantara kekikiran dan pemborosan.[25]

Dengan demikian semua barang yang dikonsumsi harus selalu berada pada bingkai nilai-nilai Islami, dengan menunjukkan pada nilai-nilai kebaikan, kesucian dan keindahan, maka benda-benda yang buruk, tidak suci, dan tidak bernilai tidak dapat digunakan, bahkan tidak dapat dianggap sebagai barang-barang yang bisa dikonsumsi dalam Islam.  Selain itu juga manusia dianjurkan untuk menjaga harta mereka dengan hati-hati dan membelanjakannya secara adil, bijaksana dan tidak berlaku boros.

Dalam konsep Islam, barang-barang konsumsi adalah barang-barang yang berguna dan baik yang manfaatnya menumbulkan perbaikan secara material, moral maupun spiritual pada konsumennya. Barang-barag yang tidak memiliki kebaikan dan tidak memotivasi peningkatan kualitas kehidupan manusia,  bukanlah barang juga tidak dianggap sebagai milik maupun asset umat, untuk itu barang apapun yang bentuknya tidak dianggap sebagai barang-barang dalam Islam.

Manusia dianjurkan untuk menggunakan kekayaan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung  pada hal-hal yang mereka anggap baik dan menyenagkan bagi mereka, seperti makan, pakaian dan perumahan.  Keleuasaan ini diberikan oleh Islam agar setiap konsumen dapat mementukan tigkat kesucian atas penggunaan barang-barang sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Selain kekuasaan yang diberikan oleh Islam kepada umat Islam untuk memakan makanan yang halal, baik dan enak.  Al Qur’an juga memberi  keseimbangan antara faham zuhud   dan faham materialism yang hanya berdasarkan hawa nafsu belaka.  Kehidupan yang paling baik menurut Al Qur’an  adalah menukmati kehidupan seara seimbang tanpa harus menitik beratkan pada satu pihak secara ekstrim.[26]

Pandangan Islam terhadap konsumen sangat moderat dan cukup bijaksana, yakni agar setiap konsumen dalam konsumsi barang-barang harus pada batas kewajaran, harus ada keseimbangan (menghindari pembororsan dan memiliki perencanaan yang matang dan baik dalam membelanjakan setiap pendapatannya, sehingga prinsip teori konsumsi yang dikemukakan oleh Gerardo dam M. Iqbal dapat diwujudkan, yakni yang dimaksud dengan dua cara untuk menghabiskan pendapatan adalah dengan siap untuk dibelanjakan kepada yang baik dan bermanfaat, agar kepuasan dan kebahagiaan dapat dicapai, juga diperlukan adanya saldo (seving/tabunagan) alternative untuk membenahi kemungkinan  kebutuhan mendatang yang tidak terencana atau memberikannya kepada yang membutuhkan dengan  cara infak/sadaqah, karena Islam sangat menjaga sirkulasi harta agar umatnya dapat terhindar dari hal-hal yang negatif.


[1]Lihat: Sicat dan Arndt, Ilmu Ekonomi Untuk Konteks Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1991), h. 3.

[2]Lihat: Karman  A. Purwaatmadja, Membumikan Ekonomi Islam  DiIndonesia, (Cet.I, (Jakarta: Usaha Kami, t.th), h. 40

[3]Suherman Rasyidi, Pengantar Teori Ekonomi (Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro), Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1998), h. 147

[4]Paul Samuel Son dan William D Nor Hans, Ekonomi, Jilid. 1, (Jakarta: Airlangga, 1993),h. 101

[5]Afzalur al Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf,  1995), h. 12

[6]Lihat: S. Rosyidi, op cit, h. 148

[7]Lihat: C. Gerardo P.Sicat H.W Arict, op cit, h. 171.

[8]Lihay: Keynes, oleh Guritno Mangkoesoebroto Al Gifari, Teori Ekonomi Makro, (Yoguakarta: STIE  YKPN, 1993), h. 65.

[9]Lihat: C. Gerardo, op cit, h. 172

[10](Pendapat Mill tersebut dikutip oleh: Mustafa Edwin Nasution dkk, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Eisi 1, Cet. 1, (Jakarta: Fajar Interpratama Offset, 2006),h. 57

[11]Lihat: Ibid, h.58

[12]Lihat: M C kenzie dan richard B, The Limit of Economic Scienci, (Kluwer: Nijhoft Publishing, 1983), h. 43

[13]Lihat: Monzer Kahf, The Islam Economic,  Diterjemahkan oleh Husei Macham,  dengan judul Ekonomi Islam (Telaah Analitik Terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, t.th), h. 16

[14]Lihat Mansyur Ramly, Pengembangan Teori Ekonomi Islam Dalam Perspektif Islam, Pidato Penerimaan Jabatan  Guru Besar Tetap Dalam Ilmu Ekonomi Pada Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia, (Ujung Pandang, 1997), h. 5

[15]Lihat: Vincent Gaspers, Ekonomi Manajerial  Pembuatan Keputusan Bisnis,   (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utara, 1999), h. 118.

[16]Ibid, h. 119

[17]Lihat: Afzalur al Rahman, op cit, h. 17

[18]Lihat: Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dengan Bank Indonesia, Ekonomi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo, Jakarta, 2008),h. 131.

[19]15. Lihat: M. Yusuf Qardlawi, Dawul (Jiyam Wal Akhlaq Fil Iqshadil Islami,  Diterjemahkan oleh Didin Hafiuddin dengan judul, “Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, (Jakarta: Rabbani Press, 2001), h. 211.  Lihat pula: Muhammad Nejatullah Siddiqi, The Economic Eanterprise In Islam, diterjemahkan oleh: Anas Sddiqi dengan judul: Kegitan Ekonomi dalam Islam, Cet. II, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 16

[20]QS,  Ali Imran: 180, Al Isra’: 26-27, Al A’raf: 31, Al Furqan: 667.

[21]Lihat: Didin Hafiuddin, Zakat dan Perekonomian Moderen, (Jakarta: Gema Insani, 2002), h.66

[22]Lembaga Percetakan Al-Quran Raja Fahd, Al-Quran dan Terjemahnya (Mujamma’ Al-Malik Fahd Li Thiba’at Al-Mush-Haf Asya-Syarif Medinah Munawwarah, 1426),, h. 158

[23]Ibid, h. 428

[24]Ibid.

[25]Lihat: Monzer Kahf, op cit, h. 28,

[26]Lihat: Ibid, h. 26

Ditandai:

Tinggalkan Pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 144 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: